Minggu, 27 Maret 2016

Poem



The season changes color, how many times have we changed color with it?
My feelings quiver like an unwilted flower
And I think of you

The words that we sing make a pleasant melody
All I need is you by my side
If there are birds who haven't lost their smiling eyes
If you can't see the shining of the stars at night

I'm wrapped in you, as though you were sunbeams streaming through the leaves
That is my strong and unchanging vow
If this is a dream, then I don't care
Overflowing with the radiance of love, the happiness of going toward tomorrow
Is real

You quietly relieve me
Even of the sad memories that I have left
I missed being blown on by the gentle wind, like playing
You who are vivid and fluttering, snatch me away

The season changes color, how many times have we changed color with it?
My feelings are like an unwilted flower
If this is a dream, then I don't care
Overflowing with the radiance of love, it colors my heart
I'm always thinking of you

Minggu, 06 Maret 2016

Bright Star


Bright star, would I were steadfast as thou art! 
Not in lone splendour hung aloft the night,
And watching, with eternal lids apart,
Like Nature's patient sleepless Eremite,

The moving waters at their priestlike task
Of pure ablution round earth's human shores,
Or gazing on the new soft fallen mask
Of snow upon the mountains and the moors - 

No -yet still steadfast, still unchangeable,
Pillowed upon my fair love's ripening breast,
To feel for ever its soft fall and swell,
Awake for ever in a sweet unrest,
Still, still to hear her tender-taken breath,
And so live ever -or else swoon to death. 

Minggu, 03 Januari 2016

How's it Going


More loneliness will probably await me ahead
I'm not getting any new memories, but my old ones are shining
I wonder what kind of adult
I appear to others right now

My innocent dream has vanished into the spring breeze
I somehow made it come true by myself
I wonder if I should be content now
Say, what happened to you?

Even when we were parting,
why did I feel overwhelming gratitude instead of sorrow?
I wanted to let you know that
I was happy to have met you

In the stillness, if I close my eyes,
a nostalgic voice resounds
I will transcend time,
become truly together with you and live on

I recall the gentle image of your bitter smile
My unyielding persistence
is also as stubborn as always
I wish we could 
laugh together and talk together again
Can you hear me...? 

Believing that my song will reach you,
I have been singing all this time

How have you been?
I have had my hard times,
but, believing that it will reach you,
I am singing a song like so...

Merry new year, Saint Claus

Rabu, 23 Desember 2015

Gaharu oh Gaharu



Gaharu adalah getah (resin, gubal) dari pohon genus Aquilaria, yang tumbuh di hutan belantara India, Asia Tenggara (termasuk Indonesia) dan Cina Selatan. Sampai saat ini, Indonesia masih merupakan pemasok produk gaharu terbesar di dunia. Meskipun populasi tumbuhan Aquilaria cukup besar, namun tidak semua pohon menghasilkan gaharu. Sebab resin itu baru akan keluar, kalau tanaman terinfeksi oleh kapang (fungus) Phialophora parasitica. Akibat infeksi, tanaman mengeluarkan getah yang aromanya sangat harum. Getah ini akan menggumpal di dalam batang kayu. Para pencari gaharu menyebut kayu dengan resin ini sebagai gubal. Tanaman Aquilaria yang tidak terinfeksi Phialophora parasitica, tidak akan beraroma harum.

Kayu gaharu bisa dijadikan bahan kerajinan bernilai sangat tinggi, atau untuk peralatan upacara keagamaan. Serbuk gaharu digunakan untuk dupa/ratus, dan minyaknya merupakan parfum kelas atas. Serbuk gaharu sebagai dupa akan dibakar langsung dalam ritual keagamaan. Baik Hindu, Budha, Konghucu, Thao, Shinto, Islam dan Katolik. Kayu gaharu disebut sebagai kayu para dewa. Aroma gaharu karenanya dipercaya mampu menyucikan altar dan peralatan peribadatan lainnya.

Adapun bibit pohon gaharu diletakkan di samping altar sebagai lambang bumi yang terberkati dan perlunya bumi diselamatkan dari kehancuran.
dalam kitab suci pun gaharu sering disebutkan lhoooo (kalau DIBACA KITAB SUCINYAAA)

Kidung Agung 4:14
Tebu adalah rempah berbau harum, gaharu adalah kayu berbau harum
lalu ditegaskan pula dalam perjanjian baru

yohanes 19:39Juga Nikodemus datang ke situ. Dialah yang mula-mula datang waktu malam kepada Yesus. Ia membawa campuran minyak mur dengan minyak gaharu, kira-kira lima puluh kati beratnya.

Dalam kidung Agung gaharu dinyatakan sebagai minyak berbau harum. Dan dalam Yohanes, gaharu difungsikan sebagai minyak suci dan mahal. 







Jumat, 18 Desember 2015

Hujan Bulan Juni


Sebuah Puisi yang Memincut hati

Sapardi Djoko Damono


tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

Rabu, 02 Desember 2015

Adven dan Cinta tak Terbalas

Hello, is it me U looking for… Halah!
Dan pertanyaan pada diri saya sendiri ialah “Where have U been?”
Well, maybe I have been go to heaven, but never been to me (opooo kuwiiii).
Sebentar lagi Natal. Lingkaran Natal adalah salah satu lingkaran perayaan misteri-misteri Kristus sepanjang satu tahun liturgy dengan kekhususan misateri kedatangan Tuhan.
Lingkaran Natal terdiri atas Masa Adven sebagai masa penantian kedatangan Al Masih, dan Masa Natal sebagai Perayaan misteri kelahiran Tuhan.

Mmmm.. masa advent ya.. Bagi umat kristiani, masa advent adalah masa penantian. Penantian akan kelahiran Yesus Kecil yang lucu,  jenius, dan serba nggilani.. Di satu sisi, masa advent merupakan penantian THR bagi pekerja (yaitu saya!). Ada pula yang menunggu datangnya jodoh dan ada yang menunggu ketok palu (Wooooooo, mlipir).

Seperti kutipan puisi Sapardi Djoko Darmono yang bikin hati berdesir “Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api..”
Sakjane ra ono hubungane karo advent sih! Dingo wangun-wangun wae… Hahahaaa..

Namun tak piker-pikir, puisi Mbah Sapardi (lha wes tuo) ada benarnya juga.
Kelahiran Yesus ke dunia diibaratkan cinta tak terbalas Tuhan pada manusia. Piye jal perasaanmu misal cintamu tak terbalas. Udah dibela-belain bantuin ngerjain skripsi gebetan, jebul itu skripsi milik pacarnya! Modaro! Syalalalalaa…
Ya, kembali ke advent yee.. Kadang banyak orang salah mengartikan tentang Natal dan adven. Memang terbungkus dengan pita dan gemerlap cahaya lampu. Namun tahukah, jika sebelum Natal tiba. Dunia tengah berada dalam sisi kegelapan (backsoundnya black metal). Maka dari itu, symbol adven adalah lilin. Bukan mati lampu lho ya, tapi sebuah kelahiran yang membawa terang. Ibarat jomblo, ada cewek yang mucul dan siap dijadikan pendamping hidup dengan khilaf tanpa akhir!

Kalau boleh serius dikit, Adven mengingatkan dimensi historis akan sacramental keselamatan Allah. Tuhan yang dinantikan adalah Tuhan yang hadir secara nyata / konkrit dalam sejarah hidup manusia. Karya keselamatan Allah teraktualisasi dalam realitas sejarah perjalanan hidup manusia di dunia.

Selama masa Adven, Gereja mengajak umat beriman untuk menghayati keutamaan-keutamaan Kristiani. Semangat dasar yang dihayati selama masa Adven adalah Pengharapan, Takwa dalam iman, Sikap Tobat, dan hati yang berpaling pada Allah, berjaga-jaga, kemurnian hati dan penghargaan atas martabat orang lain. Semangat dasar itu ditampilkan antara lain oleh tokoh-tokoh Kitab Suci seperti Yesaya, Yohanes Pembabtis, Maria dan Yoseph.

Adven mengingatkan Gereja akan tugas misionernya untuk mewartakan Sabda Allah kepada segala bangsa dan untuk senantiasa berjaga-jaga menyongsong kepenuhan Kerajaan Allah. Tindakan berjaga-jaga dan penantian itu tidak dilakukan dengan perasaan takut melainkan dalam sukacita pengharapan di dalam Tuhan.

Selamat menikmati masa adven dengan penantian (THR) ya! Jangan pedulikan tulisan yang random ini… Chao bellaaa.. Feel free…. (njepaplang)

“Dari dari nyala lilin itu pasti akan meninggalkan bekas. Akan tetapi yang membekas dari lilin bukan lelehnya, melainkan “wajahmu” sebelum gelap…”

Selasa, 10 November 2015

DI TEPIAN SORGA, AKU MENANGIS

Dalam pergulatan sinar pekat, mentari pun bisa kalah dengan satu bintang saja. Ya, meskipun terlihat banyak, sesungguhnya yang menarik hanyalah satu. Kadang cinta terlahir dari ketidakdahsyatan. Mereka hanyalah genangan kenangan. Seiring waktu, aku mulai memahami bahwa aku mencintaimu. Lelaki pendiam dan tak terlalu tampan. Bagaimanapun juga, aku menyukaimu. Saat-saat mendebarkan adalah saat aku mencuri pandang kearahmu dan kau mengetahuinya.
Terjaga dalam lamanya waktu, menggenggam rindu dengan kedua tanganku, mencari sosokmu dalam untaian sajak bisu. Aku menunggu sebagai pengantin sunyi dalam pelaminan rindu yang semu. Adakah cinta tertumpah di lantai purba sekalipun? Aku bukan pejuang cinta. Aku tidak sedang memperjuangkan cinta, tapi yang kurasakan ini memaksaku untuk bertempur habis-habisan. Aku tercelungkup dalam benggala kebisuan. Samara-samar tercincang remuknya rindu. Takkan kubiarkan cinta turut tenggelam bersama kenangan. Ia terlalu hebat untuk sekedar hiasan hati. Ia minta terjemahan makna. Ia minta makna kata-kata!
Ada lubang seperti luka di bagian hatiku. Tampak memuncratkan suatu substansi cair bercampur darah. Apa itu yang disebut luka karena cinta? Tak sepatah kata yang bisa kuucap sepanjang perjalanan kematian. Kata-kata telah mati! Kejenuhan penuh kurasa pada petang berhujan ini saat jiwa melayang. Kedua mataku basah oleh dingin udara saat hati bicara tentang kerinduan dan penyesalan.
Betapa aku ingin kita seperti tanah dan tumbuhan. Bersatu menumbuhkan benih cinta meski airmata tak kunjung usai mengalir.
Kasih tak sampai bakal terus diingat selagi jantung masih berdetak, namun bagiku itu hanya omong kosong! Di tepian sorga pun aku masih menangis. Aku merindukan dirimu yang tak pernah mencintaiku meski aku telah memberi segala yang pernah ada dari hatiku. Aku telah merangkai hari-hariku sebagai persembahan cinta untukmu, memoles langit dengan warna-warna cintaku, namun tiada aku menjadi titik akhir dalam narasi cintamu! Apabila masih ada tetes keindahan yang sebenarnya belum terhidangkan, aku akan datang kembali ke meja makanmu meski badanku telah sirna.



Bali, 2005